Kamis, 12 Maret 2026

Memahami Manusia: Lapisan Jasad, Ruh, dan Pembagian Generasi

Kajian Sederhana tentang Dimensi Fisik, Spiritual, dan Perkembangan Generasi Manusia.

Nama: Ahma Novia Zahra  
NIM: 41206120124039  
Mata Kuliah: Manajemen SDM  
Dosen Pengampu: KI GURU Agus Pranamulia  
Program Studi: Manajemen  
Fakultas: Ekonomi dan Bisnis  
Universitas: Universitas Nusa Bangsa  

Kamis, 19 Juni 2025

APBN Tekor dan Bank BPR Menurun


APBN Mei 2025 Defisit Rp21 Triliun: Penerimaan Melambat, Belanja Tetap Jalan

Jakarta, 17 Juni 2025 – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, mengumumkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp21 triliun atau setara 0,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir Mei 2025. Angka ini berbanding terbalik dengan posisi bulan April 2025, yang masih menunjukkan surplus sebesar Rp4,3 triliun.

“Posisi 31 Mei mengalami defisit Rp21 triliun. Kalau bulan lalu masih surplus Rp4,3 triliun, bulan ini sudah defisit,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA (Kinerja dan Fakta) yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025).

Penerimaan Negara: Realisasi Belum Optimal

Hingga Mei 2025, total pendapatan negara baru mencapai Rp995,3 triliun, atau sekitar 33,1 persen dari target pendapatan dalam APBN 2025 yang ditetapkan sebesar Rp3.005,1 triliun. Penerimaan ini berasal dari tiga sumber utama:

1. Pajak

  • Realisasi: Rp683,3 triliun
  • Kontribusi terbesar berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), namun terjadi perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya akibat tekanan ekonomi global dan domestik.

2. Kepabeanan dan Cukai

  • Realisasi: Rp122,9 triliun
  • Terutama berasal dari Bea Masuk, Bea Keluar, dan Cukai Rokok. Kinerja ekspor yang menurun turut menekan kontribusi sektor ini.

3. PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak)

  • Realisasi: Rp188,7 triliun
  • Sumber utama PNBP berasal dari sektor sumber daya alam (termasuk migas dan minerba), dividen BUMN, serta jasa layanan pemerintah.

Dibandingkan periode yang sama tahun 2024, pertumbuhan pendapatan negara melambat. Faktor eksternal seperti pelemahan harga komoditas global dan melambatnya perdagangan internasional berdampak langsung pada sektor perpajakan dan kepabeanan.

Belanja Negara: Tetap Agresif Dorong Pemulihan dan Transformasi

Di sisi lain, total belanja negara hingga Mei 2025 telah mencapai Rp1.016,3 triliun atau 28,1 persen dari pagu APBN 2025 yang berjumlah Rp3.604,1 triliun. Rinciannya sebagai berikut:

  • Belanja Pemerintah Pusat: Rp694,2 triliun (25,7%)

Fokus belanja meliputi pembangunan infrastruktur prioritas, subsidi energi, bantuan sosial (bansos), dan program strategis nasional seperti Food Estate, hilirisasi industri, serta digitalisasi layanan publik.

  • Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD): Rp322 triliun (35%)

Realisasi lebih tinggi karena pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) lebih awal untuk mendorong percepatan proyek-proyek daerah dan mendukung pemulihan ekonomi regional.

Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah tetap menjaga kualitas belanja dan memastikan belanja produktif menjadi prioritas, terutama yang mendukung pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan kemiskinan dan ketimpangan.

Keseimbangan Primer: Masih Surplus

Menariknya, meskipun APBN mengalami defisit secara keseluruhan, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp192,1 triliun. Keseimbangan primer merupakan selisih antara penerimaan negara dengan belanja negara tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang.

Surplus keseimbangan primer ini mengindikasikan bahwa pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang relatif sehat. Artinya, utang baru yang ditarik sebagian besar hanya digunakan untuk membayar bunga utang lama, bukan untuk membiayai belanja rutin atau defisit struktural.

Outlook Fiskal: Tetap Waspada, Namun Terkendali

Pemerintah mengakui bahwa kinerja APBN 2025 menghadapi tantangan. Beberapa faktor eksternal dan internal berpengaruh terhadap realisasi fiskal, di antaranya:
  • Ketidakpastian ekonomi global pasca-konflik geopolitik dan fluktuasi harga komoditas
  • Penurunan aktivitas perdagangan dan manufaktur di sejumlah negara mitra dagang
  • Tantangan reformasi perpajakan dan perluasan basis pajak di dalam negeri

Namun demikian, Sri Mulyani menegaskan bahwa defisit masih dalam batas aman. APBN 2025 dirancang untuk fleksibel dan adaptif menghadapi dinamika global, dengan tetap menjaga disiplin fiskal, keberlanjutan utang, dan keseimbangan pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulan dan Implikasi

Defisit APBN per Mei 2025 sebesar Rp21 triliun menandakan adanya penurunan performa penerimaan negara di tengah kebutuhan belanja yang tetap tinggi. Meskipun demikian, surplus keseimbangan primer dan pengelolaan fiskal yang berhati-hati menunjukkan bahwa pemerintah tetap menjaga stabilitas keuangan negara.

Langkah ke depan, Kementerian Keuangan akan terus memperkuat strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pajak, mengefisienkan belanja negara, dan memastikan bahwa anggaran digunakan untuk program-program yang benar-benar mendukung pemulihan ekonomi serta kesejahteraan rakyat.

Sumber Referensi:

  • Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). APBN KiTA Edisi Juni 2025. Jakarta. [www.kemenkeu.go.id](https://www.kemenkeu.go.id)
  • CNN Indonesia. (2025). Sri Mulyani: APBN Defisit Rp21 Triliun per Mei 2025. Diakses dari: [cnnindonesia.com](https://www.cnnindonesia.com)
  • Kompas.com. (2025). Defisit APBN Mei 2025 dan Kinerja Belanja Pemerintah.
  • Badan Kebijakan Fiskal. (2025). Laporan Kinerja APBN dan Proyeksi Fiskal Semester I 2025.

Rabu, 11 Juni 2025

STUDI KASUS: Pola Fungsi Actuating dan Controlling Gubernur Jawa Barat


Studi kasus yang mengkaji pola fungsi pergerakan (actuating) dan pengendalian (controlling) oleh Gubernur Jawa Barat (Dedi Mulyadi) sejak dilantik pada 20 Februari 2025.

Fungsi Pergerakan (Actuating)
Fungsi ini menggambarkan bagaimana Gubernur mengubah rencana strategis menjadi aksi nyata dengan menggerakkan berbagai pihak: 

a. Komunikasi Program Prioritas
  1. Sosialisasi melalui rapat & media sosial: Program seperti Desa Digital, Jabar Juara, dan larangan study tour disampaikan secara masif melalui kunjungan kerja, forum OPD, serta kanal media sosial resmi.  
  2. Instrumen resmi: Pergub dan Surat Edaran digunakan sebagai pedoman implementasi, misalnya pelayanan publik melalui Mal Pelayanan Publik.
b. Pendelegasian & Pemberdayaan 
  1. Memberikan otonomi lebih kepada OPD: Decentralisasi wewenang pada OPD untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dan mendorong inisiatif program lokal. 
  2. Inisiatif lokal: OPD diberdayakan untuk menjalankan kebijakan seperti normalisasi sungai atau efisiensi anggaran.
c. Penegasan Kebijakan
  1. Kebijakan tegas: Contohnya, penonaktifan kepala sekolah yang menyelenggarakan study tour keluar provinsi, sebagai sinyal bahwa aturan akan ditegakkan.
  2. Instrumen resmi hukum daerah: Penerbitan Pergub dan SE untuk memperjelas dan menegaskan kebijakan.
d. Motivasi Kinerja ASN
  1. Penghargaan dan apresiasi: Seleksi dan pemberian penghargaan kepada ASN dan pejabat birokrasi yang berprestasi, sebagai bentuk umpan balik positif yang memacu semangat kerja .
  2. Insentif tidak langsung: Dukungan publik melalui media dan kehadiran langsung gubernur menumbuhkan kultur penghargaan.
e. Gerakan Efisiensi & Disiplin Anggaran
  1. Pengalihan anggaran: Dana dari pos tidak mendesak (misalnya pakaian dinas, perjalanan dinas) diarahkan ke sektor pendidikan, infrastruktur dan prioritas sosial.
  2. Larangan non-essensial: Misalnya, pembatalan study tour dan larangan perjalanan dinas tanpa urgensi tinggi. 
Fungsi Pengendalian (Controlling)
Berfokus pada monitoring, evaluasi, dan penegakan aturan untuk memastikan tujuan tercapai  dengan efektif dan akuntabel.

a. Monitoring & Evaluasi Berkala
  1. Rapat dan kunjungan lapangan: Gubernur secara rutin meninjau progres program langsung di lapangan untuk memastikan kesesuaian dengan target kinerja.
  2. Dashboard digital: Pemanfaatan teknologi digital untuk transparansi real-time dan pemantauan kinerja OPD.
b. Penegakan Disiplin
  1. Sanksi tegas bagi pelanggar: Kepala sekolah yang menyelenggarakan study tour lintas provinsi langsung diberhentikan.
  2. Pemecatan & peringatan resmi: Digunakan sebagai sinyal kuat bagi birokrasi untuk menaati instruksi.
c. Penertiban Tata Ruang
  1. Pembongkaran fasilitas ilegal: Wahana Hibisc Fantasy milik BUMD dibongkar karena izin tanah tidak sesuai, menunjukkan bahwa pengawasan berlaku tanpa pengecualian.
  2. Normalisasi sungai & penertiban bangunan liar: Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk menegakkan tata ruang dan mengurangi risiko bencana.
  3. Pengaturan alih fungsi lahan: Pergub dikeluarkan untuk mengontrol perubahan penggunaan lahan agar tidak merusak lingkungan.
Karakteristik Gaya Kepemimpinan
  1. Tegas & tanpa kompromi: Langkah-langkah tegas seperti pemecatan kepala sekolah atau pembongkaran fasilitas sungai mencerminkan kebijakan tanpa pandang bulu.
  2. Efisiensi & akuntabilitas: Fokus kuat pada penggunaan APBD yang tepat sasaran dan tata kelola publik yang bersih.
  3. Visi perubahan sosial: Kebijakan pembinaan moral (anak nakal) hingga perubahan budaya kerja birokrasi menandakan orientasi pada transformasi sosial.
Ringkasan Pola Actuating dan Controlling
     Fungsi penggerakan (actuating) yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat ditunjukkan melalui berbagai strategi komunikasi, pemberian wewenang, hingga penyederhanaan anggaran. Dalam menggerakkan aparat dan masyarakat, gubernur menggunakan pendekatan langsung seperti sosialisasi lewat media sosial, kunjungan kerja, dan forum resmi. Ia juga memanfaatkan regulasi seperti Peraturan Gubernur (Pergub) dan Surat Edaran sebagai instrumen untuk memastikan semua pihak memahami arah kebijakan. Lebih dari itu, dia memberikan keleluasaan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menyesuaikan program dengan kondisi lokal, serta memberi motivasi berupa penghargaan dan pengakuan publik kepada ASN yang berprestasi. Di sisi lain, ia juga menghapus program-program yang dinilai tidak produktif, seperti study tour ke luar provinsi, untuk mengalihkan anggaran ke program prioritas seperti pendidikan, lingkungan, dan penanggulangan kemiskinan.

    Sementara itu, fungsi pengendalian (controlling) dilaksanakan melalui pemantauan ketat terhadap pelaksanaan program dan kedisiplinan pelaksana kebijakan. Monitoring dilakukan secara rutin melalui inspeksi lapangan, laporan evaluasi OPD, dan pemanfaatan dashboard digital yang menampilkan perkembangan indikator secara real-time. Gubernur juga tidak segan-segan memberi sanksi tegas kepada pihak yang melanggar, seperti kepala sekolah yang tetap mengadakan study tour meskipun sudah dilarang. Contoh lainnya adalah pembongkaran fasilitas hiburan di bantaran sungai yang tidak memiliki izin, serta pengaturan ketat terhadap alih fungsi lahan melalui regulasi tata ruang. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian tidak hanya administratif, tetapi juga bersifat fisik dan langsung menyentuh infrastruktur.

     Melalui pendekatan yang tegas namun efisien, pola fungsi actuating dan controlling ini memperlihatkan kepemimpinan yang aktif, langsung, dan berorientasi pada hasil, dengan penekanan pada efisiensi anggaran, kepatuhan birokrasi, serta transformasi kinerja pemerintahan daerah.

Kritik & Kontroversi
Beberapa kebijakan menuai kritik, seperti:
  1. Penonaktifan kepala sekolah dianggap berlebihan oleh sebagian pihak karena dianggap melanggar hak administratif.
  2. Program pembinaan anak nakal di barak militer dipolisikan ke Komnas HAM karena diduga melanggar hak anak.
Kesimpulan
Gubernur Dedi Mulyadi menjalankan fungsi pergerakan melalui komunikasi kuat, pendelegasian, penghargaan, dan efisiensi anggaran, yang digerakkan secara masif dan strategis. Sedangkan fungsi pengendalian dijalankan lewat monitoring digital, penegakan disiplin, pembongkaran fisik, dan regulasi ketat dalam tata ruang. Pendekatan kepemimpinan seperti ini menghasilkan perubahan birokrasi yang cepat dan penegakan aturan yang jelas meski memicu kritik terkait aspek hak asasi dan pertimbangan humanis.

Artikel ini didasarkan pada sumber-sumber berikut:
  • Nauval Abthal. Studi Kasus Pola Fungsi Pergerakan (Actuating) dan Pengendalian (Controlling) Gubernur Jawa Barat. Kompasiana, 12 Juni 2025.  
  • Silva Amalia Safara. Studi Kasus Pola Fungsi Penggerakan dan Pengendalian dalam Kepemimpinan Gubernur Jawa Barat. Kompasiana, 11 Juni 2025. 
  • Muhammad Alifvioga Supriatna. Studi Kasus: Pola Fungsi Penggerakan (Actuating) dan Pengendalian (Controlling) Gubernur Jawa Barat. Kompasiana, 11 Juni 2025. 
  • Wikipedia. Dedi Mulyadi. Diakses 12 Juni 2025, mencatat kemenangan pilkada 2024, pelantikan 20 Feb 2025, dan kebijakan kepala sekolah.  
  • Tempo.co dan Tribunnews (dirangkum di Kompasiana). Referensi terhadap kebijakan pendidikan dan reaksi publik.

Tentang Penulis

Saya Ahma Novia Zahra, mahasiswa Program Studi Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Nusa Bangsa. Artikel ini saya tulis sebagai bagian dari upaya untuk memahami lebih dalam konsep fungsi manajerial, khususnya dalam aspek actuating dan controlling, dengan menelaah studi kasus pada kepemimpinan Gubernur Jawa Barat. Penulisan ini juga menjadi sarana bagi saya untuk mengasah keterampilan berpikir kritis dan analitis yang relevan dengan bidang yang saya tekuni. Sepanjang perjalanan pendidikan saya di perguruan tinggi, saya senantiasa berusaha untuk terus berkembang dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja di masa mendatang. Di luar kegiatan akademik, saya memiliki ketertarikan pada aktivitas yang menyenangkan dan membangun, seperti jalan-jalan, memasak, serta menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Saya percaya bahwa keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi merupakan fondasi penting dalam meraih kesuksesan secara menyeluruh.





Minggu, 04 Mei 2025

Perencanaan dan Pengorganisasian Manajemen Dalam Upaya Pencapaian Tujuan yang Efektif dan Efisien


PERENCANAAN (PLANNING)

Pengertian Perencanaan
Perencanaan adalah sebuah patokan untuk mempermudah tercapainya suatu tujuan, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Menurut Alder dan Rustiadi (2008) menyatakan bahwa perencanaan adalah, ”Suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai dimasa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya”.
Perencanaan penting karena semua kegiatan dan tindakan manajerial didasarkan dan atau disesuaikan dengan rencana yang sudah ditetapkan sehingga tiap rencana dan semua rencana-rencana turunan membantu pencapaian tujuan organisasi. Keuntungan perencanaan adalah :
  1. Memberi arah
  2. Meningkatkan koordinasi
  3. Mengurangi ketidakpastian
  4. Meningkatkan kontrol
  5. Memperbaiki manajemen waktu
Fungsi dan Tujuan Perencanaan
Adapun Fungsi dari perencanaan adalah sebagai acuan dalam pengambilan keputusan, mengidentifikasi masalah, menetapkan prioritas, mengoptimalkan sumber daya, dan meningkatkan kinerja organisasi. 
Tujuan dari perencanaan adalah untuk mencapai tujuan jangka panjang dan jangka pendek organisasi atau pemerintahan serta memberikan keuntungan bagi stakeholder dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan melakukan perencanaan yang baik dan terstruktur, organisasi atau pemerintahan dapat mencapai tujuannya dengan lebih efektif dan efisien.

Tahap-Tahap Perencanaan
Perencanaan berhubungan erat dengan fungsi-fungsi manajemen lain terutama dengan pengendalian. Keduanya dianggap sebagai dua sisi dari satu mata uang. Perencanaan dilakukan melalui tahap-tahap yang meliputi :
  1. Menetapkan tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang kegiatan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber-daya sumber-dayanya secara tidak efektif. 
  2. Merumuskan keadaan sekarang. Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber-daya sumber-daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. 
  3. Mengidentifikasi kemudahan-kemudahan dan hambatan-hambatan. Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. 
  4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) di antara berbagai alternatif yang ada.
Kegagalan Perencanaan Menurut Ginanjar Kartasasmita
Kegagalan perencanaan, menurut Ginanjar Kartasasmita tidak disebabkan perencanaan itu sendiri, tetapi bersumber pada beberapa hal berikut ini:
  1. Penyusunan perencanaan yang tidak tepat mungkin disebabkan informasi yang kurang lengkap, metodologi yang belum dikuasai, atau perencanaan sejak awal yang tidak realistis sehingga tidak dapat terlaksana.
  2. Perencanaannya baik, tetapi pelaksanaannya tidak seperti seharusnya.
  3. Perencanaan mengikuti paradigma yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan serta tidak dapat mengatasi masalah mendasar negara berkembang.
  4. Perencanaan diartikan sebagai pengaturan total kehidupan manusia hingga hal yang paling kecil.
Manfaat perencanaan
Seperti diketahui dalam ilmu manajemen dikenal empat fungsi utama manajemen yang dikenal dengan singkatan POAC, yaitu Planning (Perencanaan), Organizing (Pengoroganisasian), Actuating (Pelaksanaan), dan Controlling (Pengendalian). Dari istilah tersebut, kita bisa melihat bahwa Planning atau perencanaan merupakan hal pertama yang harus dilakukan saat melakukan manajemen perusahaan.
Manfaat perencanaan sangat besar, sehingga kita harus melakukannya terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan lain. Tapi dalam prakteknya kita banyak menemukan orang yang melewati proses perencanaan dan langsung melakukan kegiatan. Setidaknya ada enam manfaat perencanaan dalam manajemen.
  1. Menentukan Tujuan yang Tepat. Rencana bukanlah sekadar tindakan untuk mencapai tujuan, tetapi juga menentukan tujuan itu sendiri. Saat membuat perencanaan kita bisa menilai apakah tujuan yang ingin dicapai realistis. Perencanaan juga membantu membuat keputusan, memprediksi waktu dan menyiapkan proses untuk mencapai tujuan itu.
  2. Menghindari Ketidakpastian. Salah satu kunci keberhasilan tercapainya tujuan adalah adanya kepastian. Ini persoalan yang tidak mudah, karena dalam kehidupan ketidakpastian adalah sebuah keniscayaan. Perubahan selalu terjadi. Baik karena perubahan lingkungan, kondisi sosial masyarakat, sistem, perkembangan teknologi, kemajuan sistem informasi dan sebagainya, yang membuat segala sesuatunya harus disesuaikan.
  3. Menghindari Pekerjaan yang Tidak Berguna. Setiap bidang dalam perusahaan pasti memiliki job description atau tugasnya masing-masing. Perencanaan yang efektif sangat dibutuhkan sebelum merencanakan pekerjaan atau tugas yang wajib dilakukan, sehingga ada kejelasan mengenai tanggung jawab yang harus dipikul dan harapan yang dicapai. Adanya perencanaan bisa meningkatkan koordinasi antara karyawannya dan menghindari terjadinya overlap dalam pengerjaan tugas.
  4. Memastikan Efisiensi dalam Pemanfaatan Sumber Daya. Perencanaan juga melibatkan pendelegasian tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang tersedia secara efisien. Dengan merencanakan kedua hal ini di awal, kita bisa mengetahui banyaknya peluang untuk mengurangi biaya-biaya yang tidak diperlukan.
  5. Meningkatkan Inovasi. Perusahaan pasti memiliki banyak tantangan yang harus diselesaikan. Oleh karena itu dibutuhkan ide dan solusi kreatif. Perencanaan sangat penting untuk menentukan arah dan tindakan di masa depan.
  6. Meningkatkan Motivasi dan Kerja Sama Tim. Manfaat perencanaan yang terakhir sangat berguna untuk karyawan perusahaan, bahkan pimpinannya. Faktanya, orang menjadi lebih semangat apabila mereka diberikan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, perencanaan bisa menghasilkan tujuan yang ingin dicapai, sehingga orang bisa tahu apa yang harus dikerjakan.
Jenis-Jenis Perencanaan 
  1. Perencanaan strategis adalah proses perencanaan yang dilakukan oleh manajemen puncak untuk menentukan visi, misi, dan tujuan jangka panjang perusahaan. Perencanaan ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu 3-5 tahun ke depan dan mencakup semua aspek bisnis, termasuk pengembangan produk, pemasaran, dan operasi. 
  2. Perencanaan taktis adalah proses perencanaan yang dilakukan oleh manajer menengah untuk mengembangkan rencana kerja jangka menengah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan strategis. Perencanaan ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu 1-3 tahun dan mencakup rencana pemasaran, keuangan, dan operasional. 
  3. Perencanaan operasional adalah proses perencanaan yang dilakukan oleh manajer tingkat bawah untuk mengembangkan rencana kerja jangka pendek guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan taktis. Perencanaan ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun atau kurang dan mencakup rencana produksi, persediaan, dan pengaturan jadwal kerja. 
  4. Perencanaan keuangan adalah perencanaan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan organisasi atau pemerintahan. Perencanaan keuangan meliputi penyusunan anggaran, pengelolaan aset, dan investasi. 
  5. Perencanaan sumber daya manusia adalah perencanaan yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia, seperti rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan karyawan. 
  6. Perencanaan pemasaran adalah perencanaan yang berkaitan dengan pengembangan produk atau jasa dan strategi pemasaran untuk mencapai target pasar. 
  7. Perencanaan proyek adalah perencanaan yang berkaitan dengan pengelolaan proyek dari awal hingga akhir, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan proyek. 
  8. Perencanaan krisis adalah perencanaan yang dibuat untuk mengatasi keadaan darurat atau krisis yang mungkin terjadi dalam organisasi atau pemerintahan. Perencanaan ini meliputi langkah-langkah darurat dan pengambilan keputusan dalam situasi yang tidak terduga.
Karakteristik Perencanaan
Beberapa karakteristik perencanaan adalah sebagai berikut: 
  1. Tujuan: Perencanaan memiliki tujuan yang jelas dan spesifik. Tujuan tersebut harus dapat diukur dan dapat dicapai dalam waktu tertentu. 
  2. Fleksibilitas: Perencanaan harus fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan keadaan yang ada. Hal ini dilakukan agar perencanaan tetap relevan dan sesuai dengan kondisi aktual. 
  3. Integrasi: Perencanaan harus melibatkan seluruh bagian atau departemen dalam suatu organisasi atau pemerintahan. Integrasi ini bertujuan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. 
  4. Berkelanjutan: Perencanaan harus mampu menjamin keberlanjutan suatu proyek atau program yang direncanakan. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. 
  5. Realistis: Perencanaan harus realistis dan dapat dicapai dengan sumber daya yang tersedia. Tujuan yang terlalu ambisius dan tidak realistis dapat menyebabkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 
  6. Terukur: Perencanaan harus dapat diukur dan dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  7. Kontinuitas: Perencanaan harus bersifat kontinu dan terus-menerus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara berkelanjutan. 
  8. Koordinasi: Perencanaan harus memperhatikan koordinasi antara berbagai departemen atau bagian dalam organisasi atau pemerintahan. Koordinasi ini bertujuan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Sifat-Sifat Perencanaan
Perencanaan memiliki sifat-sifat sebagai berikut : 
  1. Kontribusi terhadap tujuan (contribution of obyective). Bahwa setiap perencanaan dilakukan untuk mewujudkan tujuan yang akan dicapai. 
  2. Kedudukan yang istimewa dari satu perencanaan (primacy of planning). Bahwa setiap perencanaan selalu harus ditempatkan pada kedudukan pertama dari suatu proses manajemen. Perencanaan dapat memberi arah bagi pelaksanaan proses manajemen berikutnya. 
  3. Kemampuan pengisian dari planning (pervasiveness of planning). Suatu rencana merupakan dasar manajemen yang berisi tujuan dan cara pencapaiannya. Suatu rencana dilaksanakan oleh semua level manajer, tetapi penekannya dan cakupannya berbeda, tergantung dari wewenang yang dimiliki dan batasan dari atasn. 
  4. Efisensi dari perencanaan (efficiency of planning). Suatu rencana akan menyebabkan usaha pencapaian tujuan dapatdilakukan secara efisien. Efisiensi dari perencanaan dapat diukur dengan membendingkan jumlah sumbangannya terhadap tujuan dengan biaya atau konsekuensi lain yang diperlukan dalam merumuskan dan melaksanakan rencana (rasio input-out put).
Enam Pertanyaan Pokok Perencanaan (4W & 2H)
Melalui perencanaan yang baik, enam pertanyaan pokok dalam setiap aktifitas untuk mencapai tujuan akan terjawab. Keenam pertanyaan tersebut yang dikenal dengan 4W & 2H adalah sebagai berikut : 
  1. What needs to be accomplished? (apa yang harus dikerjakan?) 
  2. When is the deadline? (Kapan harus dilaksanakan dan diselesaikan? 
  3. Where will this be done? (Dimana tempat pelaksanaannya?) 
  4. Who will be responsible for it? (Siapa penanggungjawabnya?) 
  5. How will it get done? (Bagaimana cara melaksanakannya?) 
  6. How much time, energy, and resources are required to accomplish this goal? (Berapa banyak waktu, tenaga dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mecapai tujuan)

PENGORGANISASIAN (ORGANIZING)

Pengertian Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi. Menurut (Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, 2011), pengorganisasaian merupakan proses penentuan, pengelompokkan serta pengaturan berbagai aktifitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang pada setiap aktifitas, menyediakan alat yang dibutuhkan, menetapkan wewenang yang secara relative kepada setiap individu yang akan melakukan aktifitas tersebut.


Bentuk Organisasi
Wursanto menyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk organisasi yaitu: 
  1. Bentuk organisasi staff (staff organization), dimana dalam organisasi staf hanya terdapat pucuk pimpinan dan staf yang memberikan bantua pemikiran berupa saran atau nasihat kepada pucuk pimpinan. Oleh karena itu, dalam organisasi staf tidak ada garis komando ke bawah karena tidak ada pejabat pimpinan lini. 
  2. Bentuk organisasi lini (line organization), dimana bentuk organisasi lini adalah suatu bentuk organisasi dimana pucuk pimpinan dipandang sebagai sumber kekuasaan tunggal. Segala ketentuan, keputusan, atau segala kebijaksanaan ada di tangan satu orang, yaitu pucuk pimpinan.
  3. Bentuk organisasi fungsional (functional organization), dimana Organisasi fungsional disusun berdasarkan sifat dan macam-macam fungsi sesuai dengan kepentingan organisasi. Tiap-tiap fungsi saling berhubungan karena antara satu fungsi dengan lainnya saling bergantung. Dengan demikian, wewenang dalam organisasi fungsional dilimpahkan oleh pucuk pimpinan kepada unit-unit (satuan organisasi) di bawahnya atas dasar fungsi, dan pimpinan dari tiap unit berhak untuk memerintah kepada semua pelaksana yang ada di bawahnya sepanjang menyangkut tugas masing-masing. 
  4. Bentuk organisasi staf dan garis (line andstaff organization), dimana bentuk ini merupakan perpaduan antara dua bentuk organisasi, yaitu organisasi lini dan organisasi staf. Wewenang diserahkan dari pucuk pimpinan kepada unit-unit organisasi yang ada di bawahnya dalam semua bidang pekerjaan dan di bawah pucuk pimpinan ditempatkan staf. Staf ini tidak mempunyai wewenang lini atau garis (wewenang komando) ke bawah. Staf berfungsi hanya sebagai pemberi nasihat, pemberi pertimbangan sesuai bidang keahliannya. 
  5. Bentuk organisasi garis dan fungsional (line andfunctional organization), dimana merupakan perpaduan antara organisasi fungsional dan organisasi lini/garis. Wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada unit-unit organisasi yang ada di bawahnya dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu sesuai kebutuhan organisasi. Masing-masing pimpinan dari setiap unit. 
  6. Bentuk organisasi garis, fungsional, dan staf. Bentuk organisasi garis, fungsional, dan staf adalah suatu organisasi yang merupakan perpaduan dari tiga bentuk organisasi, yaitu organisasi fungsional, organisasi lini, dan organisasi staf. 
  7. Bentuk organisasi lini, fungsional, dan staf adalah organisasi dimana wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada unit-unit organisasi yang ada di bawahnya dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu sesuai kebutuhan organisasi.
  8. Bentuk organisasi panitia (committee organization), dimana bentuk organisasi panitia yaitu apabila kegiatan itu dilakukan kelompok sementara yang terdiri daripada orang-orang yang memiliki keahlian tertentu.
Prinsip Organisasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan organisasi sebaiknya prinsip organisasi yaitu:
  1. Pembagian kerja (devision of work)
  2. Wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility)
  3. Disiplin (discipline)
  4. Kesatuan komando (unity of command)
  5. Kesatuan langkah (unity of direction)
  6. Subordinasi minat dibawah minat pada umumnya (subordination of individual interest to general interest)
  7. Pemberian hadiah (remuneration)
  8. Sentralisasi atau pemusatan (centralization)
  9. Jenjang hirarki (line of autority/hierarchie)
  10. Ketertiban (order)
  11. Kesamarataaan (equity)
  12. Stabilitas jabatan pegawai (stability of personel)
  13. Inisiatif (iniciative) dan 
  14. Kesatuan jiwa korps (esprit de corps) dilaksanakan untuk suatu proses organisasi yang bermutu.
Fungsi Organisasi
Adapun fungsi organisasi adalah: 
  1. Membantu pimpinan dalam merencanakan penyusunan dan penyempurnaan struktur dan pola pokok organisasi; 
  2. Menyesuaikan policy, strategi dan taktik serta program-program operasional; melaksanakan proses penempatan orang-orang yang tepat pada jabatan dan kecapakannya dengan klasifikasi dan analisa jabatan yang tepat; 
  3. Menyusun dan menyempurnakan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja dengan mengadakan pembaganan rencana-rencana kerja dan arus kerja (work flow chart); 
  4. Menemukan pola-pola pokok dan sistem pengumpulan, penyusunan, penyimpanan, pemeliharaan dan penetapan waktu pemusnahan dokumen-dokumen dan informasi; 
  5. Merencanakan pembuatan dan penyempurnaan serta pengiriman formulir-formulir; 
  6. Pembuatan buku-buku pedoman kerja dan cara-cara membuat laporan kerja yang diperlukan bagi pembinaan kerjasama, komunikasi dan koordinasi;
  7. Meringankan beban pimpinan dari kesibukan-kesibukan rutin, detail dan teknis.
Struktur Organisasi
Menurut Stoner struktur organisasi dibangun oleh lima unsur, yaitu:
  1. Spesialisasi aktivitas, yaitu mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok di seluruh organisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas tersebut ke dalam unit kerja (departementalisasi).
  2. Standardisasi aktivitas, yaitu merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayak-gunaan (predictability) aktivitas banyak dari prosedur ini ditetapkan dengan memformulasikan aktivitas dan hubungan dalam organisasi.
  3. Koordinasi aktivitas, adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi, seperti fungsi primer dalam suatu badan usaha, pemasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi memerlukan koordinasi.
  4. Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan, mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan. Sentralisasi ialah proses konsentrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas suatu organisasi. Sedangkan desentralisasi adalah pendelegasian wewenang pada semua tingkat organisasi.
  5. Ukuran unit kerja, mengacu pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok kerja.
Komponen-Komponen Pengorganisasian
Adapun komponen-komponen pengorganisasian, yaitu: 
  1. pekerjaan (work), dimana fungsi-fungsi yang dijalankan berasal dari tujuan-tujuan yang dinyatakan itu. Mereka merupakan landasan bagi organisasi. Fungsi-fungsi itu dipisah-pisahkan dalam sub-sub fungsi yang dilakukan karena, pertama, penguraian pekerjaan dikalangan sebuah regu menghendaki, lalu pekerjaan itu harus dibagi-bagi. Kedua, juru pekerjaan mewajibkan satuan-satuan tugas yang minim. Kelompok aktivitas kerja dibentuk atas dasar persamaan pekerjaan maupun efisiensi, yakni fungsi tertentu, apabila ditempatkan didalam kelompok yang terlaksana dengan baik.
  2. Pegawai atau employes merupakan subjek yang mengerjakan tugas/pekerjaan-pekerjaan organisasi. Penugasan akan memberikan penetapan sepenuhnya terhadap perhatian pegawai, perilaku, pengalaman dan kecakapan. Penetapan ini merupakan alat vital dalam mengorganisir penugasan pada seseorang yang terdiri dari suatu bagian dari pekerjaan divisi kerja organisasi meliputi dalam beberapa hal.
  3. Hubungan yang merupakan bagian penting dalam pengorganisasian. Contohnya pegawai dengan pekerjaan, interaksi pegawai dengan yang lain dari satuan unit pekerjaan dengan pekerja lainnya, merupakan isu yang menentukan pengorganisasian. Keselarasan dan kesatuan usaha mungkin hanya kalau hubungan-hubungan ini baik. Kebanyakan persoalan dalam pengorganisasian, sampai beberapa jauh, mengaitkan kesulitan-kesulitan hubungan.
  4. Lingkungan berisi alat fisik dan iklim umum, dimana para pegawai akan melakukan kegiatan kerja. Lokasi, peralatan, meja-meja, formulir-formulir, penerangan, semangat umum, dan sikap-sikap merupakan contoh-contoh dari faktor-faktor yang membentuk lingkungan. 
Perencanaan dan pengorganisasian merupakan dua fungsi manajemen yang saling berkaitan dan sangat penting dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Perencanaan memberikan arah dan strategi yang jelas, sementara pengorganisasian memastikan sumber daya dikelola secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut. Keduanya membantu dalam pengambilan keputusan, pengaturan waktu, dan pengelolaan tenaga kerja secara lebih terarah. Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan yang baik terhadap kedua aspek ini menjadi kunci utama dalam mendukung keberhasilan suatu organisasi atau kegiatan.
Demikian pembahasan dalam artikel ini. Semoga bermanfaat.

Artikel ini didasarkan pada sumber-sumber berikut:
  • Sumber: Jurnal Studi Interdisipliner Perspektif oleh Sasoko, D. M. (2022), diakses dari https://ejournal-jayabaya.id/Perspektif/article/view/26
  • Sumber: Jurnal Kependidikan Islam IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi oleh Hindun, S.Ag., M.Pd.I. (2015), diakses dari https://www.neliti.com/id/publications/56645/perencanaan-strategis-dan-prilaku-manajerial-lembaga-lembaga-pendidikan
  • Sumber: Journal of Student Research (JSR) oleh Silmu, N., Kurniawan, B., & Subhan, M. (2024), diakses dari https://ejurnal.stie-trianandra.ac.id/index.php/jsr/article/download/1899/2008
  • Sumber: Jurnal Dirasah oleh Saefrudin (2018), dialami dari https://ejournal.iaifa.ac.id/index.php/dirasah/article/download/9/5/
  • Sumber: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, Administrasi dan Pelayanan Publik oleh Syukran, M., Agustang, A., Idkhan, A. M., & Rifdan. (2022), diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/525425-none-2f3cc41f.pdf
  • Sumber: Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi oleh Putri, G. A. M., Maharani, S. P., & Nisrina, G. (2022), diakses dari https://dinastirev.org/JEMSI/article/view/819

Tentang Penulis

Ahma Novia Zahra lahir di Bogor pada 22 November 2006. Saat ini, saya tengah menjalani studi di Program Studi Manajemen, Universitas Nusa Bangsa. Sebagai seorang mahasiswi yang aktif dan bersemangat, saya memiliki ketertarikan mendalam terhadap pengembangan ilmu manajemen, terutama dalam aspek perencanaan, pengorganisasian, dan pengelolaan sumber daya.
Di sela aktivitas akademik, saya terus mengembangkan kemampuan dalam bidang kepemimpinan dan komunikasi. Dedikasinya terhadap proses belajar dan pengembangan diri mencerminkan komitmen kuat untuk memberikan kontribusi positif di dunia kerja maupun masyarakat luas.

Selasa, 17 Mei 2022

All about rapat

 Nama : Ahma Novia Zahra
 Kelas : x ap 5

Halo guys!!! 
Berhubung mapel hari ini yaitu Teknologi Perkantoran aku mau bahas tentang rapat.

Kita sering mendengar kata rapat bukan? bahkan pernah melakukan rapat, sprti rapat guru, rapat keluarga, rapat warga, rapat presiden dll. Kalian pasti tau kan rapat itu apa? 

Iya, rapat adalah pertemuan antara dua orang atau lebih untuk memutuskan suatu tujuan, tapi kalian tau ga sih apa definisi rapat? Yuk kita bahas!


Rapat (conference atau meeting) adalah alat atau media komunikasi kelompok yang mempunyai sifat tatap muka dan sangat penting, diselenggarakan oleh banyak organisasi, baik swasta maupun pemerintah untuk mendapatkan mufakat melalui musyawarah untuk pengambilan keputusan.


Adapula jenis-jenis rapat yaitu :

1)     Menurut tujuannya : 

a. Rapat penjelasan

b. Rapat pemecahan masalah

c. Rapat perundingan

2)     Menurut sifatnya :

a. Rapat formal

b. Rapat informal

3)     Menurut jangka waktunya : 

a. Rapat mingguan

b. Rapat bulanan

c. Rapat tahunan


Unsur-unsur rapat :

1. Tujuan

2. Masalah yang dirapatkan

3. Pemimpin rapat

4. Peserta rapat

5. Media rapat

6. Notulis/sekretaris


Tujuan rapat yaitu :

a. Memecahkan/mencari jalan keluar suatu masalah

b. Menyampaikan informasi, perintah, dan pernyataan

c. Sebagai alat koordinasi antarintern atau antarekstern

d. Agar peserta rapat dapat ikut berpartisipasi kepada masalah-masalah yang sedang terjadi

e. Mempersiapkan suatu acara/kegiatan

f. Menampung semua permasalahan dari arus bawah (para peserta rapat)


Selain rapat yang dilakukan secara tatap muka, rapat juga bisa dilakukan secara online yang biasanya dlm jarak jauh atau tidak dlm stu ruangan, sprti menggunakan video call, google meet dll. Rapat ini disebut dengan rapat telekonferensi. Berikut definisi nya


Rapat Telekonferensi adalah pertemuan berbasis elektronik secara langsung di antara beberapa orang yang biasanya dalam jarak jauh atau tidak dalam satu ruangan dan dihubungkan oleh suatu sistem telekomunikasi. Telekonferensi mempunyai tiga jenis yaitu audio conference (conference call), web conference, dan video conference.


Itulah penjelasan mengenai rapat 

Sekian dan terimakasih



Memahami Manusia: Lapisan Jasad, Ruh, dan Pembagian Generasi

Kajian Sederhana tentang Dimensi Fisik, Spiritual, dan Perkembangan Generasi Manusia. Nama:  Ahma Novia Zahra   NIM: 41206120124039   Mata ...